Daftar Bacaan

Tuesday, May 22, 2012

MAKNA PUJA (DO’A), HARI SUCI, TEMPAT SUCI DAN AJARAN TENTANG SANGHA

  1. A.    Makna Puja (Do’a)

Alam tidak memihak; alam tidak dapat disanjung oleh doa; Alam tidak menghibahkan kemurahan khusus apapun atas permintaan; Manusia bukanlah makhluk yang jatuh melainkan malaikat yang bangkit. Doa terjawab oleh kekuatan pikiran mereka sendiri. 
            Ajaran budha memberikan tanggung jawab dan martabat penuh kepada manusia. Ajaran budha membuat manusia menjadi tuannya sendiri. Menurut ajaran buddha, tidak ada makhluk yang lebih tinggi yang duduk untuk menghakimi perbuatan dan nasib seseorang. Hal ini berati hidup kita, masyarakat kita, dunia kita, adalah apa yang kamu dan saya ingin perbuat dengannya, dan bukan apa yang diinginkan oleh makhluk antah berantah.
            Mengenai doa-doa utnuk mencapai tujuan akhir, sang buddha pernah membuat analogi tentang seorang manusia yang ingin menyebrang sungai. Jika ia duduk dan berdoa, memohon agar tepian seberang datang kepadanya dan membawanya ke seberang, maka doanya tidak akan terjawab. Jika ia benar-benar ingin menyeberang sungai itu, ia harus berusaha; ia harus mencari balok kayu dan membikin rakit, atau mencari jembatan, atau membuat perahu, atau barangkali berenang. Dengan suatu cara ia harus bekerja untuk menyebrang sungai. Demikian juga, jika ia ingin menyebrangi sungai Samsara, doa-doa saja tidaklah cukup. Ia harus bekerja keras dengan  menjalankan kehidupan religius, mengendalikan nafsunya, menenangkan pikirannya, dan dengan menyingkirkan semua ketidakmurnian dan kekotoran dalam pikirannya. Hanya dengan demikian ia dapat mencapai tujuan akhir. Doa saja tidak akan pernah membawtanya tujuan akhir.
            Jika diperlukan, hal itu sebaiknya digunakanutnk memperkuat dan memusatkan pikiran dan bukan untuk memohon sesuatu. Doa berikut dari seorang penyair mengajarkan kita bagaimna caranya berdoa. Umat buddha akan menganggap hal ini sebagai meditasi untuk mengembangkan pikiran:

Semoga aku tak bedoa dijauhkan dari marabahaya,
Tapi berdoa agar tak takut menghadapinya.
Semoga aku tak bedoa untuk diredakan dari rasa sakit,
Tapi demi hati yang menaklukanya.
Semoga aku tak rindu diselamatkan dari rasa takut,
Tapi bisa mengandalkan kesabaran
Untuk menenangkan kebebasanku

  1. B.     Hari Suci

            Dalam upacara-upacara yang dilakukan umat Buddha terkandung dalam beberapa prinsip penting yaitu:
  1. Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Triratna;
  2. Memperkuat keyakinan;
  3. Membina keadaan batin yang luhur;
  4. Mengulang dan merenungkan kembali Sang Buddha;
  5. Melakukan anumodhana, yaitu membagi perbuatan baik kepada orang lain.
Upaca tersebut dilakukan secara harian, mingguan, setiap hari upashota, yaitu setiap tanggal 1 dan 15berdasarkan penanggalan bulan, dan pada hari-hari raya agama Buddha.
Hari-hari raya Buddha tersebut adalah
  1. hari Waisak , Hari Waisak biasanya jatuh pada bulan pernama Sidhi, Mei-Juni, yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana.
  2.  Asadha, Hari raya Asadha biasanya jatuh pada bulan purnama Sidhi bulan Juli-Agustus, dua bulan setelah Waisak. Hari Asadha di peringati karena hari itu adalah hari ketika Sang Buddha mengajarkan dharma yang pertama kali kepada kelima Pertapa, yang di kenal dengan “pemutaran roda dharma”.
  3. Kathina dan, Hari raya Kathina dirayakan tiga bulan setelah hari Asadha, sebagai ungkapan perasaan terima kasih kepada para bhikkhu yang telah menjalankan vassa, berdiam di satu tempat tertentu, di daerah mereka.
  4.  Magha Puja, Hari raya Magha Puja biasanya jatuh pada bulan purnama bulan Februari-Maret
  5. C.    Tempat Suci
Dalam tradisi agama Buddha, tempat-tempat suci dalam Buddha adalah sesuatu yang sangat disakralkan (keramat atau disucikan) oleh para perkumpulan, para penganut agama Buddha dan para orang sucinya.
Sang Buddha berbicara tentang empat tempat yang di sucikan karena berhubungan dengan Beliau, yang seharusnya dikunjungi oleh para pengikut yang setia dengan penuh penghormatan dan perasaan kagum. Empat tempat suci tersebut adalah:
  1. Tempat kelahiran Sang Buddha
  2. Tempat Sang Buddha mencapai penerangan
  3. Tempat Sang Buddha memutar roda Kesunyataan yang Tiada Bandingnya (Dhammacakka)
  4. Tempat Sang Buddha mencapai Parinibbana

            Tempat yang suci yang di bangun oleh para penganut Buddha biasanya memiliki seni arsitektir yang luar biasa, lihat saja contohnya candi Borobudur di Jawa Tengah. Contoh lain, puncak lengkungan kubah stupa yang berdiri di Mount Meru, gunung kosmik Buddha yang menandai pusat India, dan payung-payung yang muncul diatas stupa melambangkan tingkat surga berbeda pada tradisi India kuno. Diatas payung-payung, ada ruang kosong dari langit-langit, terletak bidang tak berbentukyang didapatkan oleh ‘orang suci Buddha di level meditasi tertinggi dan ‘Buddha field’ merupakan tempat kediaman Buddhas dan bodhisattva-bodhisattva yang berasal dari tradisi Mahayana.
  1. D.    Ajara Tentang Sangha

Dalam naskah-naskah Buddhis dijelaskan bahwa sangha adalah pasamuan dari makhluk-makhluk suci atau ariya-puggala. Mereka adalah makhluk-makhluk suci yang telah mencapai buah kehidupan beragama yang ditandai oleh kesatuan dari pandangan yang bersih dan sila yang sempurna. Tingkatan kesucian yang telah mereka capai terdiri dari sottapati, sakadagami, anagami dan arahat.
            Tingkat sottapati adalah tingkat kesucian pertama, dimana mereka masih menjelma tujuh kali lagi sebelum mencapai nirwana. Pada tingkatan ini seorang satopatti masih harus mematahkan belenggu kemayaan aku (sakkayaditthi), keragu-raguan (vicikiccha), dan ketakhayulan (silabataparamasa) sebelum dapat meningkat ke sakadagami. Pada tingkat sakadagami, ia harus menjelma sekali lagi sebelum mencapai nirwana. Ia harus dapat mebangkitkan kundalini sebelum naik ke tingkat anagami.setelah mencapai anagami, ia tidak harus menjelma lagi untuk mencapai nirwana namun harus mematahkan beberapa belenggu yaitu kecintaan yang indrawi (kamaraga), dan kemarahan atau kebencian (patigha) sebelum mencapai tingkat terakhir, yaitu arahat. Setelah mematahkan belenggu kamarag dan patigha, ia kemudian naik ketingkat arahat dan dapat langsung mencapai nirwana di dunia maupun sesudah meninggalnya.
            Selain ke empat tingkat kesucian di atas, dalam kepercayaan Buddha juga di kenal adanya asheka, yaitu orang yang sempurna (sabbanu) yang tidak perlu belajar lagi di bumi ini. Diantara para asheka tersebut adalah Siddharta Gautama yang telah mencapai tingkat kebuddhaan tanpa harus belajar dan berguru kepada orang lain.

No comments:

Post a Comment